Apresiasi Seni Rupa

Selasa, 15 Januari 2013


Kegiatan Belajar 1

Apresiasi Seni Rupa


A. Pengertian Apresiasi
Apresiasi secara etimologi: “appreciatie”  (Belanda), “appreciation” (Ing), menurut kamus Inggris, “to appreciate”, yaitu bentuk kata kerja yang berarti: to judge the value of; understand or enjoy fully in the right way (Oxford), to estimate the quality of;  to estimate rightly;  to be sensitively aware of (Webster).     
Secara umum apresiasi seni atau mengapresiasi karya seni berarti, mengerti sepenuhnya seluk-beluk sesuatu hasil seni serta menjadi sensitif terhadap segi-segi estetika. Apresiasi dapat juga diartikan berbagi pengalaman antara penikmat dan seniman, bahkan ada yang menambahkan, menikmati sama artinya dengan menciptakan kembali. Tujuan pokok penyelenggaran apresiasi seni adalah menjadikan masyarakat "melek seni" sehingga dapat mencrima seni sebagaimana mestinya. Dengan kata-kata yang lebih lengkap, apresiasi adalah kegiatan mencerap (menangkap dengan pancaindera), menanggapi, menghayati sampai kepada menilai sesuatu (dalam hal ini karya seni).
Kegiatan apresiasi seni atau mengapresiasi karya seni dapat diartikan sebagai upaya untuk memahami berbagai hasil seni dengan segala permasalahannya serta terjadi lebih peka akan nilai-nilai estetika yang terkandung di dalamnya. Hal ini ditegaskan oleh Soedarso (1990:77) bahwa apresiasi adalah: “Mengerti dan menyadari sepenuhnya seluk-beluk sesuatu hasil seni serta menjadi sensitif  terhadap segi-segi estetiknya sehingga mampu menikmati dan menilai karya tersebut dengan semestinya.” Sementara itu Rollo May (Alisyahbana, 1983:81) menambahkan bahwa berapresiasi terhadap suatu kreasi baru atau hasil seni juga merupakan suatu tindakan kreatif.
Mengapresiasi karya seni itu penting sekali karena akan membuat hidup lebih nikmat, gembira, sehat. Bayangkan, bagaimana jika ada orang yang tidak mampu sekali menikmati karya seni (dalam arti luas, termasuk seni di luar seni rupa). Dalam kehidupan sehari-hari, secara disadari atau tidak, orang melakukan apresiasi pada tingkat tertentu: menonton pameran, mendengarkan musik, menonton film di TV, memilih motif kain dan sebagainya.

B. Langkah-langkah Apresiasi
Dalam menganalisis dan menanggapi karya seni rupa secara garis besar ada dua cara yang dapat dilakukan, yaitu dengan menggunakan ukuran subyektif, artinya menilai bagus tidaknya berdasarkan pertimbangan sendiri, misalnya karya ini sangat bagus atau indah karena kita memandang benda seni itu amat menyenangkan. Penilaian dengan ukuran objektif artinya, menilai bagus tidaknya karya seni atas dasar ukuran kenyataan dan objek (karya seni rupa) itu sendiri. Bila karyanya memiliki ukuran secara objektif bagus, maka kita katakan bagus. Demikian juga sebaliknya. Setiap karya seni tentunya memiliki ciri khas, yang berbeda satu sama lain.
Mengungkapkan karakteristik karya seni rupa dua dimensi tentu berbeda dengan karya seni rupa yang tiga dimensi. Karakteristik karya seni dua dimensi terilihat dari (1) segi bentuk atau wujudnya; (2) teknik yang digunakan dan (3) fungsi serta maknanya. Ketiga bagian itu saling berhubungan. Bentuk karya terwujud karena teknik dan proses pembuatan. Bentuk juga berkaitan dengan kegunaan atau fungsi. Demikian bentuk berkait dengan makna. Untuk itu usaha mengapresiasi karya seni rupa Nusantara yang ada di daerah anda akan memperhatikan ketiga ukuran tersebut.
Coba perhatikan dua karya seni rupa di daerah anda (sebuah gambar ilustrasi atau dua dimensi dan sebuah karya patung atau tiga dimensi). Perhatikan dari segi bentuk-nya, proses pembuatanya, terutama teknik pengrjaannya. Apakah ada perbedaan? Membuat gambar ilustrasi dengan menggunakan pensil atau ballpoint di atas kertas. Sedangkan membuat patung (kayu atau bahan lainnya) tidak menggunakan pensil tapi peralatan cukilan atau pahatan. Perkirakan juga kesulitan dalam pembuatannya, waktu yang digunakan untuk membuat dan hal-hal lain yang berhubungan dengm teknik pembuatan. Nyatakan tanggapan tersebut sesuai dengan penilaian subyektif dan objektif.
Menganalisis dan menanggapi karya seni rupa tiga dimensi akan berbeda dengan karya seni rupa yang dua dimensi. Karya tiga dimensi bisa jadi lebih menarik, karena pada karya tiga dimensi bendanya lebih nyata. Dari segi gagasan tentu akan beragam. Dari segi bahan juga bermacam-macam, bahkan segi teknikya terlihat berbeda. Biasanya dalam pengerjaan karya tiga dimensi lebih lama dibandingkan dengan karya dua dimensi.
Karena di lingkungan kita (daerah setempat) karya seni rupa dua dumensi dan tiga dimensi bermacam-macam, maka tentu saja gagasan,  bahan atau bentuk dan tekniknya bermacam-macam pula. Pada masing-masing karya akan memiliki arti yang berbeda. Sebenarnya upaya menganalisis dan menanggapi masing-masing karya seni rupa yang ada di lingkungan anda sendiri dimaksudkan agar anda menjadi penilai atau apresiator yang baik. Dengan mengetahui keberagaman bentuk, teknik dan funginya, anda menghargai apa yang dibuat oleh para seniman yang ada di daerah setempat. Bila anda menekuni dan mencermati pekerjaan tersebut anda akan merasakan bahwa apa yang dikerjakan para pekerja seni itu bukan sesuatu yang mudah. Anda akan turut merasa terlibat atau berempati dan mengagumi pekerjaan seni rupa.
Adakah cara yang dapat diupayakan agar anda dapat melakukan apresiasi karya seni dengan lebih bermutu? Ada. Selain banyak melihat, membaca, mendengarkan atau membiasakan menghayati karya seni, anda dapat menggunakan apa yang disebut dengan pendekatan dan pentahapan apresiasi.

C. Pendekatan dan Metode Apresiasi
Apresiasi seni dapat dilakukan dengan berbagai metode atau pendekatan sebagai berikut :

1. Pendekatan aplikatif
            Apresiasi melalui pendekatan aplikatif ditumbuhkan dengan melakukan kegiatan berkarya seni secara langsung, di studio, di kampus, di rumah atau di mana saja. Melalui praktek berkarya, apresiasi tumbuh dengan serta merta akibat dari pertimbangan dan penghayatan terhadap proses berkarya dalam hal keunikan teknik,  bahan, dsb. Melalui berkarya seni, kita dapat merasakan berbagai pertimbangan teknik yang digunakan oleh seniman dalam proses berkarya. Tidak jarang keunikan teknik atau bahan tertentu menumbuhkan gagasan yang unik bagi seorang perupa. Berkarya menggunakan medium batu misalnya, tentu akan meberikan sensasi yang berbeda dibandingkan dengan menggunakan medium tanah liat yang lunak, walaupun kedua medium tersebut dapat digunakan untuk mewujudkan karya seni patung. Semakin banyak pengetahuan kita tentang teknik, alat dan bahan yang digunakan dalam berkarya seni rupa, akan semakin bertambah pula wawasan kita dalam mengapresiasi karya seni rupa.
            Pendekatan aplikatif dapat juga dilakukan dengan melihat proses berkarya seorang perupa secara langsung. Kita dapat mengunjungi sanggar, studio atau sentra-sentra kerajinan yang ada di daerah kita atau didaerah lain untuk melihat secara langsung bagaimana para perupa dan pengrajin bekerja mewujudkan karya seni rupanya. Dengan kemajuan teknologi saat ini, proses berkarya seni yang dilakukan oleh para perupa tersebut dapat juga kita saksikan melalui tayangan film dalam bentuk video atau CD. Dengan demikian wawasan kita tentang proses berkarya seni akan semakin kaya.

2. Pendekatan kesejarahan
Apresiasi dengan pendekatan ini ditumbuhkan melalui pengenalan sejarah perkembangan seni. Dalam praktek sehari-hari secara sederhana, kita dapat mencoba meneliti asal usul sebuah karya seni rupa dengan bertanya kepada orang tua kita di rumah, ayah, ibu, paman atau siapa saja tentang riwayat sebuah karya seni. Pertanyaan tersebut berkisar pada soal fungsi karya pada saat dibuat dibandingkan dengan fungsinya saat ini, siapa (seniman) yang membuatnya, tempat karya seni diproduksi, serta kapan waktu pembuatannya.
Apresiasi dengan pendekatan kesejarahan tidak cukup dengan mengunjungi musium atau melihat berbagai karya peninggalan perupa-terdahulu. Seperti telah disebutkan di atas, apresiasi dengan pendekatan ini membutuhkan kemauan untuk mengethui lebih jauh tentang karya-karya seni yang kita lihat. Berbagai model pertanyaan dapat kita buat untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya tentang karya-karya tersebut. Beberpa pertanyaan yang dapat kita ajukan diantaranya sebagai berikut:

PERTANYAAN
LINGKUP JAWABAN
1.      Siapa yang membuat karya itu?
1.            seniman/kriyawaan
2.      Di mana karya itu berada?
2.            Saat ini dan dulu
3.      Bagaimana cara karya itu dihadirkan?
3.            Proses pemindahan
4.      Bilamana karya itu datang?
4.            Peristiwa yg melatarbelakangi kedatangan karya
5.      Siapa yang memperoleh karya itu?
5.            Pemilik karya itu dulu dan sekarang
6.      Mengapa ?
6.            Latar belakang kepemilikan
7.      Berapa harga karya itu?
7.            Harga saat ini
8.      Siapa saja yang melihat karya pada saat itu?
8.            individu/komunitas/masyarakat
9.      Siapa yang melihat karya itu saat ini?
9.            individu/komunitas/masyarakat
10.  Bagaimana cara karya tersebut diperkenalkan/dihadirkan?
10.        Pameran/musium/galeri/public space
11.  Apa artinya pada saat itu?
11.        Arti/fungsi pada saat itu
12.  Apa artinya karya itu pada saat ini?
12.        Arti/fungsi saat ini
13.  Apa yang terjadi yang ditunjukkan pada/dengan karya itu?
13.        Deskripsi objek
14.  Apakah (itu) karya satu-satunya?
14.        Varian/jenis karya yang serupa
15.  Bagaimana kondisi karya?
15.        Utuh/rusak dsb/perubahan yg terjadi
16.  Terbuat dari apakah karya (itu)?
16.        Material/alat/bahan
17.  Untuk siapa karya (itu) dibuat?
17.        Latar belakang pembuatan karya
18.  Benda/karya  apakah (itu)?
18.        Jenis karya seni


3. Pendekatan problematik
Apresiasi ditumbuhkan dengan menyoroti masalah serta liku-liku seni sebagai sarana untuk dapat menikmati secara semestinya. Apresiasi melalui pendekatan ini dimulai dengan mengenali unsur-unsur fisik dan non fisik (unsur-unsur dan prinsip-prinsip seni rupa) yang terdapat dalam sebuah karya seni. Langkah selanjutnya adalah mengetahui ukuran karya, mengenali teknik dan bahan-bahan yang digunakan, tema yang diangkat  dan objek yang dipilih.


Rangkuman
Secara umum apresiasi seni atau mengapresiasi karya seni berarti, mengerti sepenuhnya seluk beluk sesuatu hasil seni serta menjadi sensitif terhadap segi-segi estetika. Apresiasi dapat  juga diartikan berbagi pengalaman antara penikmat dan seniman, bahkan ada yang menambahkan menikmati sama artinya dengan menciptakan kembali. Tujuan pokok penyelenggaran apresiasi seni adalah menjadikan masyarakat “melek seni” sehingga dapat menerima seni sebagai mestinya .
Apresiasi seni dapat dilakukan dengan berbagai metode atau pendekatan sebagai berikut :
  1. Pendekatan aplikatif
Melalui apresiasi dengan pendekatan ini ditumbuhkan dengan melakukan kegiatan berkarya seni secara langsung .
  1. Pendekatan kesejarahan
Apresiasi dengan pendekatan ini ditumbuhkan melalui pengenalan sejarah/ perkembangan seni
      c.   Pendekatan problematik
            Melalui pendekatan ini apresiasi ditumbuhkan dengan menyoroti masalah serta liku-liku seni sebagai sarana untuk dapat menikmatinya secara semestinya.

Latihan
Dengan bekal yang anda miliki, seperti: pengetahuan tentang arti, fungsi, ragam atau jenis-jenis karya seni, anda kini telah siap melakukan apresiasi sampai kepada tahap menilai karya seni. Pilihlah karya seni rupa yang tergolong dua dimensi dan tiga dimensi yang ada di lingkungan anda, kemudian apresiasi karya tersebut. Tulis tanggapan apresiasi karya seni tersebut kemudian diskusikan dengan dosen dan teman saudara di kelas.

Test Formatif 1
Pilih satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang disediakan

1.       Secara umum apresiasi seni atau mengapresiasi karya seni berarti, mengerti sepenuhnya seluk-beluk sesuatu hasil seni serta menjadi sensitif terhadap …
a. segi-segi estetika
b. segi-segi sosial
c. segi-segi keilmuan
d. segi-segi filosofi
2.       Apresiasi dapat juga diartikan berbagi pengalaman antara penikmat dan seniman, bahkan ada yang menambahkan, menikmati sama artinya dengan:
a. merasakan kembali
b. menuliskan kembali
c. menciptakan kembali
d. mencicipi kembali
3.       Dalam kehidupan sehari-hari, secara disadari atau tidak, orang melakukan apresiasi pada tingkat tertentu seperti:
a. menonton pameran
b. melihat film di TV
c. memilih motif baju
d. a, b dan c semuanya benar
4.       Dalam menganalisis dan menanggapi karya seni rupa secara garis besar ada dua cara yang dapat dilakukan, yaitu menggunakan ukuran...
a. subyektif dan interpretatif
b. subyektif dan kontemplatif
c. subyektif dan estetis
d. subyektif dan obyektif
5.       Menilai bagus tidaknya karya berdasarkan pertimbangan sendiri termasuk apresiasi dengan menggunakan ukuran
a. subyektif
b. obyektif
c. estetis
d. interpretatif
6.       Menilai bagus tidaknya karya seni atas dasar ukuran kenyataan dan karya seni rupa itu sendiri termasuk apresiasi dengan menggunakan ukuran
a. subyektif
b. obyektif
c. estetis
d. interpretatif
7.       Dalam mengapresiasi karya seni sebaiknya kita menggunakan ukuran
a. subyektif
b. obyektif
c. estetis
d. a dan b
8.       Karakteristik karya seni dua dimensi terlihat dari beberapa aspek yaitu:
a. segi bentuk, teknik yang digunakan dan warnanya
b. segi bentuk, teknik yang digunakan dan fungsi serta maknanya
c.    segi bentuk, wujudnya, dan fungsi serta maknanya
d.    segi bentuk atau wujudnya, teknik yang digunakan dan bahannya
9.       Apresiasi yang ditumbuhkan dengan melakukan kegiatan berkarya seni secara langsung adalah apresiasi menggunakan pendekatan
a. aplikatif
b. kesejarahan
c. problematik
d. tidak ada yang benar
10.   Apresiasi ditumbuhkan dengan menyoroti masalah serta liku-liku seni sebagai sarana untuk dapat menikmati secara semestinya. Apresiasi melalui pendekatan ini dimulai dengan mengenali unsur-unsur fisik dan non fisik yang terdapat dalam sebuah karya seni. Apresiasi yang dimaksud dalam kalimat ini menggunkan pendekatan…..
a. aplikatif
b. kesejarahan
c. problematik
d. tidak ada yang benar




Untuk melihat kemampuan Anda, coba cocokan jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang terdapat pada akhir Bahan Belajar Mandiri ini.
Kemudian hitunglah jawaban Anda yang benar dan gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap Materi Kegiatan Pembelajaran ini.

Rumus:
Tingkat penguasaan=  ­­­­­­­Jumlah Jawaban Anda yang benar   x 100%
                                                            10
Arti tingkat penguasan yang Anda capai:
90 - 100%        = baik sekali
80 -  89%         = baik
70 - 79%          = cukup
    < 70%          = kurang

Catatan: Bila Anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Pembelajaran selanjutnya, tetapi bila tingkat penguasan Anda masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi Kegiatan Belajar ini, terutama bagian yang belum Anda kuasai.

Daftar Pustaka
Barret, Terry, Criticizing Art: Understanding the Contemporary, Mayfield Publishing Company, Mountain View. California, London, Toronto, 1994.
Danto, Arthur C., After The End of Art Contemporary Art and The Pole of History, Priceton University Press, William Street, Princeton, New Jersey, 1995.
Dermawan, Budiman, 1988, Pendidikan Seni Rupa untuk SMA Kelas 1 Semester 1 dan 2,  Bandung: Ganeca Exact Bandung.
Ganda Prawira, N., (ed.), 2005, Seni Rupa dan Kerajinan, Buku Ajar mahasiswa PGSD/PGTK, Guru SD/TK, Bandung, Jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia.
Hasan, Asikin, “ Menyimpang dari Tradisi Modernisasi”, dalam Forum Keadilan, no 23, Tahun V, 24 Februari 1997
Hertz, Richard, Theories of Contemporary Art, Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliffs, New Jersey, 1985.
Holt, Claire. 200. Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia Diterjemahkan Oleh R.M. Soedarsono. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukkan Indonesia.
Kavolis, Vytautas, History On Art’s Side Social Dynamic In Efflorescences, Cornel University Press, Itacha, New York, 1972.
Latifah, Diah dan Sulastianto, Harry, 1994, Penuntun Belajar Pendidikan Seni I, Bandung: Ganeca Exact.
Pirous, Iwan Meulia, “Makna Modernitas bagi Seniman Seni Rupa Modern Indonesia”, dalam Antropologi Indonesia, Th. XXIV. No 62, Jurusan Antropologi FISIP UI dan Yayasan Obor, Jakarta, 2000.
Rasjoyo, Pendidikan Seni Rupa Untuk SMU kelas I, Erlangga, Jakarta, 1994.
Sahman, Humar, Mengenali Dunia Seni Rupa, Tentang Seni, Karya Seni, Aktivitas Kreatif, Apresiasi, Kritik dan Estetika,  IKIP Semarang Press, Semarang, 1993
Soedarso Sp., Sejarah Perkembangan Seni Rupa Modern, CV Studio Delapanpuluh Enterprise & BP ISI Yogyakarta, Yogyakarta, 2000
Sugiharto, I. Bambang, Postmodernisme, Tantangan Bagi Filsafat, Kanisius, Yogyakarta, 1996.
Sumartono, (et al.), Outlet,Yogya dalam Peta Seni Rupa Kontemporer Indonesia, Yayasan Seni Cemeti. Yogyakarta, 2000.
Sumartono, “Penelitian Sejarah Seni Rupa Setelah Krisis Modernisme” dalam Jurnal Seni, edisi I/01-Mei 1991, BP ISI Yogyakarta, Yogyakarta, 1991.
Syafii, dkk., 2002. Materi Pembelajaran Kertakes SD. Jakarta : Universitas Terbuka.

METODE PEMBELAJARAN SENI RUPA


Kegiatan Belajar 2

METODE PEMBELAJARAN SENI RUPA 

A. Pengertian Metode Penggajaran
Metode pengajaran membicarakan bagaimana membelajarkan siswa sesuai dengan harapan-harapan dan mewujudkan perubahan positif. Metode merupakan kegiatan menata dan mengelola pelaksanaan pengajaran yang efektif yang melibatkan segala bentuk interaksi antara siswa, guru, dan sumber belajar. Pola ini dapat berupa pengalihan langsung pengetahuan  atau proses-porses yang berkaitan dengan pengajaran.
Pada kegiatan awal, proses pembelajaran diasumsikan nihil. Melalui informasi, latihan dan keterampilan idiharapkan terjadi perubahan peserta didik dalam segala aspek potensi yang dimilikinya. Untuk itunperlu dilakukan teknik dan strategi pembelajaran yang  tepat guna mencapai tujuan yang diharapkan. Dengan demikian tidak ada satu metode yang baik kecuali bila diguakan sesuai dengan situasi dan kondisi yang kondusif.

B. Tujuan Penggunaan Metode
Tujuan metodologi pengajaran adalah untuk merencanakan dan melaksanakan cara-cara yang efektif untuk mencapai tujuan. Dasar pemilihan metode yang tepat adalah atau cocok adalah relevansinya dengan tujuan/sasaran yang dirumuskan. Ketepan memilik dan gunakan metode indikatornya adalah kualitas hasil pembelajaran siswa dalam prose pembelajarannya.
Pembelajaran seni rupa/kerajinan tangan dapat menggunakan metode metode yang telah dibahas seperti metode: ceramah, demonstrasi, multimedia, slides, pameran, belajar partisipasi, diskusi, demonstrasi, tugas/resitasi, training, kerja kelompok, kerja kreatif, metode global, metode meniru/mencontoh, metode kritik seni.


C. Jenis Jenis Metode Pembelajaran Khusus Seni Rupa
Metode pembaljaran yang digunakan dalam proses pembelajaran sangatlah beragam, namun secara garis besar dari ragam metode yang ada dibagi menjadi dua, yaitu metode untuk pembelajaran  teoretik dan metode untuk pembelajaran praktek. Hal ini ditegaskan Sukmadinata (2004: 269-270) bahwa meteode pembelajaran dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:
1.        Pembelajaran teori
a)    Pembelajarn ekspositorik: ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi
b)   Pembelajaran kegiatn kelompok:  diskusi, diskusi panel, kerja kelompok, simulasi,  bermain peran, dan seminar)
c)    Pembelajaran berbuat (eksperimen, pengamatan, penelitian sederhana, dan pemecahan masalah).
2.        Pembelajaran praktek
a)    Pembelajaran praktek di sekolah
b)   Pembelajaran praktek di lingkungan kerja
Metode-metode di atas merupakan metode umum dalam proses pembelajaran. Selanjutnya dalam kesempatan ini akan dibahas metode khusus dalam pembelajaran pendidikan seni rupa.
De Francesco (1958: 133-141) membagi  Metode mengajar pendidikan seni rupa menjadi:
1.    Pengajaran Langsung (Directed Teaching)
2.    Ekspresi bebas (Free Expession)
3.    Pengjaran Inti (Core Teaching)
4.    Pengajaran berkorelasi (Correlated Teaching)
Pembahasan berikut merupakan bahasan secara khusus mengenai metode-metode khusus dalam mengajar pendidikan seni rupa di sekolah, yaitu: metode Ekspresi Bebas, metode Kerja Cipta, metode Demonstrasi-Eksperimen, metode Mencontoh, metode Stick figur,  metode Global, dan metode Kerja Kelompok. Selain itu, pada bagian akhir juga diperkenalkan metode kritik seni sebagai bekal dalam mengapresiasi karya seni

1.      Metode Ekspresi Bebas
            Dalam jenjang pendidikan dasar, metode ini kadang-kadang disalahartikan menjadi “menggambar bebas”, atau “menggambar sesuka hati”. Guru ada kalanya hanya mengintruksikan kepada anak-anak untuk melakukan aktivitas tanpa arahan dan tuntunan. Akibat yang terjadi adalah unsur ekspresi yang menjadi tuntutan dari metode ini terabaikan karena anak sering menyimpang dari tuntutan  menggambar ekspresi. Jika kondisi di atas dibiarkan begitu saja maka dampak yang terjadi anak menjadi jenuh dan segan untuk mengikuti mata pelajaran pendidikan seni rupa. Corak gambar anak menjadi stereotype (bentuknya “begitu-begitu” saja, tak ada perkembangan). Objek gambar juga tidak banyak bervariasi, pada umumnya berkutat pada “sawah-gunung-matahari”.
Metode ekspresi bebas pada dasarnya adalah suatu cara untuk membelajarkan siswa agar dapat mencurahkan isi hatinya dalam bentuk karya seni rupa. Agar metode ekspresi bebas  dapat tercapai secara maksimal, maka perlu dilakukan:
a.       Tawarkan dan tetapkan beberapa pilihan tema sebagai perangsang daya cipta.
b.      Tetapkan beberapa pilihan media/bahan yang cocok, misalnya cat air, oil pastel, tinta bak, cat plakat dan sebagainya.
c.       Jelaskan jenis kertas serta alasan pemilihan kertas tersebut.
d.      Jelaskan bentuk kegiatan menggambar tersebut, apakah bentuk sketsa atau berbentuk lukisan
Metode Ekspresi Bebas identik dengan metode Ekspresi-Kreatif (Jefferson, 1980) atau Metode Kerja Cipta (Tambrin, 1991: 46).
Jenis metode ini merupakan bentuk lain dari metode menggambar bebas yang disarankan oleh A.J Suharjo. Metode ini merupakan pengembangan dari pendapat Victor Lowenfield yang menganjurkan agar setiap guru yang bermaksud mengembangkan kreasi  siswanya untuk bebas berekspresi (free expression). Dengan cara ini guru menjauhkan diri dari campur tangannya terhadap aktivitas yang dilakukan siswanya.
Atas dasar tesebut metode ini sering dinamakan Metode Ekspresi-Kreatif. Proses pelaksanaan metode ini berjalan secara informal dalam dunia persekolahan. Kehadiran guru memiliki peranan sangat kecil bahkan hampir-hampir tidak  diperlukan. Kondisi ini sangat berarti bagi siswa yang memiliki motivasi tinggi untuk belajar, namun bagi siswa yang memiliki motivasi rendah, kondisi ini dapat disalahgunakan untuk bermain-main. Kini mulai banyak dilakukan di sanggar-sanggar melukis.
            Di sisi lain perlu disadari hakekat pendidikan yaitu “mengubah, membiasakan dan mengarahkan” prilaku anak ke arah yang positif. Untuk itu tentunya dalam sistem pendidikan memerlukan sejumlah piranti yang mengatur kegiatan tersebut. Guru harus senantiasa menegakkan kebebasan yang bertanggung jawab.
            Metode kerja cipta cipta dapat diterapkan dalam kegiatan menggambar dekorasi, mendisain benda-benda kerajinan, menggambar reklame dan sebagainya. Dalam pelaksanaannya sebaiknya siswa ditunjang doleh keterampilan-keterampilan dasar dan menengah, karena keterampilan mencipta merupakan tingkat  keterampilan mencipta merupakan tingkat  keterampilan lanjut yang matang (complex adaptive skill).
            Langkah-langkah kegiatan metode  kerja cipta sebagai berikut:
a.       Guru memberikan pengarahan yang berfokus pada kedudukan konsep dalam proses kelahiran suatu karya.
b.      Siswa mencoba menuangkan suatu konsep pada disain gambar dekorasi, reklame atau barang-barang kerajinan yang akan dibuat.
c.       Selam proses percobaan berjalan, guru menganjurkan agar sumbang saran antarsiswa terjadi.
d.      Guru memberi sumbang saran, petunjuk dan pengarahan mengenai konsep yang dikemukakannya serta memberi petunjuk dan jalan bagi para siswa yang mengalami hambatan.
e.       Selam proses kerja mencipta berlangsung, keterampilan-keteramoilan dasar dan menengah sudah harus betul-betul dikuasai sehingga proses kerja mencipta tidak terdapat hambatan.

2.      Metode Demonstrasi-eksperimen.
Demonstrasi adalah kegiatan guru/instruktur memperagakan proses pembuatan suatu benda kerajinan. Misalnya cara memahat. Guru memperlihatkan cara memegang pahat, cara membuat pahatan lurus dan lengkung pada kayu, cara finishing, dsb. Murid memperhatikan. Eksperimen adalah siswa mencoba sendiri setelah memperhatikan suatu proses pengerjaan yang didemonstrasikan guru. Prinsip belajar: dengar/lihat, kerjakan, periksa.

3.      Metode Mencontoh
Metode mencontoh merupakan metode tertua terutama dalam seni kerajinan. Tiga abad sebelum tarih Masehi,  di Yunani telah dipergunakan metode ini.  Hingga sekarang keahadiran metode ini masih tetap populer dalam lapangan pendidikan sebagai mertode untuk menyampaikan berbagai jenis kegiatan kesenirupaan terutama jenis kegiatan motorik.
Metode ini banyak dilakukan di pusat-pusat pembelajaran seni zaman  dahulu. Para cantrik (pemagang) biasanya dilatih para empu (guru) untuk meniru hasil karya gurunya. Semakin mendekati kualitas kerja gurunya, semakin berhasil para cantrik itu di dalam belajarnya. Dalam kursus-kursus melukis pun masih dijumpai penerapkan cara ini. Untuk belajar keterampilan motorik, cara ini dapat dilakukan.
Secara teori penerimaan penggunaan metode mencontoh ini didasarkan pada beberapa hal, yaitu:
a.       Secara naluri, anak-anak belajar dengan cara mencontoh;
b.      Mencontoh merupakan pekerjaan mudah serta ringan untuk dilakukan karena kurang menuntut keterlibatan rasa dan intelek.
c.       Mencontoh dalam latihan kerja praktek kesenirupaan  melibatkan aktivitas mata. Karena itu indra mata mendapat latihan yang pada gilirannya dapat mempertajam pengamatan.
d.      Karena model yang dicontoh pada umumnya dalam keadaan diam dan tidak diubah-ubah bentuknya, maka kegiatan mencontoh dapat dilakukan secara berulang-ulang dalam kondisi yang sama. Dengan demikian latihan dapat menjadi efektif untuk tujuan meniru benda dimaksud.
Pihak yang menolak metode  mencontoh memiliki argumen bahwa:
a.       Mencontoh, apalagi dilaksanakan oleh orang lain dan dilakukan dengan berilang-ulang akan berakibat muncul rasa bosan, tidak menarik dan pada gilirannya akan menimbulkan rasa benci terhadap pelajaran yang diberikan.
b.      Kebiasaan mencontoh akan menghilangkan kepercayaan  dan tidak mengembangkan keberanian untuk mengemukakan pendapat dan akan mematikan kreasi.
c.       Benda-benda duplikasi hasil mencontoh merupakan benda-benda usang yang tidak mempunyai daya tarik konsumen sehingga nialai komersialnya rendah.
d.      Kemampuan mencontoh tidak sanggup membawa tantangan masyarakat yang selalu berubah.
Berdasaarkan kedua pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya metode mencontoh memiliki manfaat yang tinggi dalam meningkatkakan kemampuan motorik, sedangkan keterampilan mental dan kreasi tidak memiliki apa-apa. Dengan demikian, nampaknya penggunaan metode ini bersifat kondisional.
Baberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode mencontoh, diantaranya:
1.      Metode mencontoh baik digunakan apabila ditujukan untuk:
a)    latihan dasar keterampilan fisik;
b)   memperoleh bentuk yang sama walaupun ukurannya diperbesar atau diperkecil;
c)    memproduksi benda tradisional;
d)   Memahami proporsi dan anatomi yang tepat dari benda yang akan ditiru;
2.      Kegiatan mencontoh harus memiliki makna bagi proses belajar sisea;
3.      Mencontoh tidak dijadikan kebiasaan;
4.      Untuk memberikan daya tarik kepada siswa, model yang akan ditiru sebaiknya dipilih sendiri oleh siswa;
5.      Seyogyanya secara berangsur-angsur apa yang dilakukan oleh siswa berubah dari membuat duplikasi tepat menjadi modifikasi model yang dicontoh.
Yang termasuk jenis jenis metode mencontoh adalah:
a.    Menjiplak dengan bantuan kertas karbon.
Prisnip pengerajaannya adalah memindahkan gambar semirip mungkin dari sebuah gambar pada sebuah selembar kertas ke kertas yang lainnya. Jumlahnya bisa banyak sesuai dengan kemampuan alat yang digunakan tersebut.
b.   Menjiplak dengan bantuan kertas tipis.
Cara ini sebenarnya hampir sama dengan menggunaka karbon, hanya pengerajaaannya berbeda. Bila menggunakan karbon, gambar aslinya berada di atas kertas yang lain (kertas yang akan digambari baru), sedangkan bila menggunakan teknik menjoiplak dengan kertas tipis justru sebaliknya. Kertas yang akan digambari diletakan di atas kerta yang sudah ada gambarnya.
c.    Menjiplak dengan bantuan sinar lampu
Metode iani dilakukan bial gambar yang akan ditiru terdapat pada kertas yang agak tebal. Penggunaan sinar lampu menjadikan gambar yang akan ditiru tembus pandang.. Jenis kegiatan ini sering kali digunakan dalam pelajaran seni grafis misalnya kegiatan menyablon, yaitu pada waktu menjiplak gambar pada keratas gambar dengan menggunakan kertas kalkir atau kodaktris.
d.   Metode menjiplak dengan mengghunakan bantuan alat proyektor
Cara ini dilakukan bia kita akan membuat gambar yang berukuran besar. Untuk itu diperlukan film slide yang memuat gambar yang akan kita tiru. Cara ini biasanya digunakan oleh para senirupawan yang berkecimpung dalam dunia reklame, namun dalam lingkungan pendidikan pun sering digunakan misalanya dengan OHP.
e.    Metode mencontoh dengan bantuan skala garis atau skala berpetak.
Proses pengerjaanya dilakukan pertama kita harus membuat  memperkirakan berapa perbandingan pembesaran gambar yang akan ditiru. Kemudian Biuatlah petak-petak sesuai dengan skala yang telah ditetapkan sebelumnya. Pada bagian akhir, kita meniru gambar keseluruhan dengan cermat.
f.     Metode mencontoh dengan menggunakan bantuan alat pantograph
Penggunaan alat ini selain murah juga praktis. Penggunaan alat ini dapat memperbesar  atau memperkecil gambar, kita tinggal mengatur posisi skalanya.
g.    Metode mencontoh benda secara langsung
Metode mencontoh benda merupakan bagian dari metode mencontoh yang biasanya diterapakan pada menggambar bentuk (menggambar benda mati), menggambar model (menggambar manusia) dan membentuk model. Dari ketiga jenis kegiatan tersebut menuntut kita untuk menggambar dan membentuk secara visual-ralistis, apa yang kita gambar harus sesuai dengan apa yang kita lihat.
Tujuan dari metode ini adalah:
1.        Untuk melatih siswa bekerja teliti dalam mengamati model atau benda yang akan digambar;
2.        Untuk melatih siswa dalam mencari posisi atau sudut pandang yang baik dari model atau benda yang akan digambar atau dibentuk. Diharapkan memilih suatu yang baik menjadi kebiasaan sehari-hari;
3.        Dengan model langsung benda, siswa dihadapkan pada kenyataan yang rasional sehingga tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan yang irasional  dari gambar yang ditiru;
4.        Melatih kepekaan rasa agar lebih sensitif terhadap keindahan sebab walau bagaimanapun menggambar benda langsung membutuhkan kepekaan rasa, perhitungan rasa yang cermat, tepat dan teliti
Pengunaaan metode mencontoh benda langsung memerlukan keterampilan khusus dalam pengelolaan dan pengorganisasian kelas. Ada dua piliha, pertama kita bisa menggambar langsung di tempat terbuka (di luar kelas), kedua kita bisa menggambar langsung di dalam kelas.
Jika kita akan memilih di luar ruangan kelas, kiat aharus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.    Jangan memilih tempat yang telalu jauh dari lokasi kelas atau sekolah , waktu harus digunakan seefisien mungkin;
2.    Oleh karena kegiatan menggambar tidak dilaksanakan dia atas meja, maka  sebaiknya dipersiapkan alas gambar yang cukup praktis;
3.    Pemilihan objek yang akan digambar bisa ditetapkan satu buah objek secara bersama-sama. Jika lahan yang digunakan tidak memungkinkan, maka dapat ditentukan beberapa objek benda yang akan digambar serta menentukan jumlah siswa per kelompok tersebut dengan memperhatikan tingkat kesulitan yang hampir sama.
Jika kegiatan menggambar langsung akan dilaksanakan di dalam kelas, teknik pengorganisasian kelasnya dapat dilakukan dengan cara:
1.    Suasana kelas dapat dibuat menjadi kelompok besar atau dibentuk menjadi keleompok-kelompok kecil. Jika akan diberlakukan kelompok besar, maka model yang akan digambar cukup hanya menggunakan satu model saja. Sedangkan jika kelas akan dibuat menjadi beberapa kelompok, hal yang harus dipersiapakan oleh kita adalah menyiapkan jumlah modes sesuai dengan jumlah kelompok yang ada dengan memperhitungkan tingkat kesulitan yang sama dari masing-masing model.
2.    Pengaturan tempat duduk akan tergantung pada situasi dan kondisi kelas. Jika kelas dibuat kelompok  besar, maka pengaturan tempat duduk yang paling efektif adalah dengan posisi setengah lingkaran atau dengan posisi melingkar. Bila kondisi kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil, maka pengaturan tempat duduk dapat diatur berbanjar atau posisi sejajar, setengah lingkaran atau melingkar dalam ukuran yang lebih kecil.
     
4.      Metode Stick figure
Menurut Amir Hamzah Sulaiman, menyebutkan istilah metode ini adalah metode tongkat. Penggunaan metode ini biasanya dipakai dalam menggambarkan adegan gerak (action) manusia atau binatang.  Sesuai dengan namanya, metode ini merupakan mpenyederhanaan bentuk atau wujud manusia tau binatang menjadi tongkata atau garis patah-patah sesuai dengan lekukan atau patahan pada persendian manusia atau binatang.
Ketika kita menjelaskan pemasalahan yang memerlukan sketsa dengan metode tongkat ini, kita perlu menguasai dan mengenal bentuk dan kaidah anatomis binatang atau manusia. Pada bagaian mana yang dapat terjadi perubahan gerak. Tentunya untuk mencapai hal itu kita perlu sering berlatih.

5.      Metode Global
Metode global pada pendidikan seni rupa biasanya digunakan pada awal belajar menggambar bentuk. Tujuan  utama pengunaan metode ini adalah agar anak dapat menangkap bentuk keseluruhan dari bentuk model yang disediakan (Garha, 1992).
Secara teknis penggunaan metode global ini dibagi dua, yaitu metode global dengan teknik silhuet dengan metode global dengan teknik kontur.
Metode global jenis silhuet ditinjau secara teknis dan psikilogis dipandang lebih mudah dari metode global dengan teknik kontur karena anak diminta untuk menangkap benda secara keseluruhan dengan mengabaikan bagian bagian detailnya. Metode global ini nampaknya cocok bagi siwa kelas yang sedang belajar pada tahap-tahap awal (kelas bawah).Metode global jenis kontur lebih cocok bagi siswa, mahasiswa atau ahli gambar teknik yang sudah memiliki kemampuan motorik. Secara teknis metode ini penggambar dituntut untuk menangkap benda serara global dan menyederhanakannya dalam bentuk gambar-gambar dasar (geometris) yang dibuat dengan goresan garis. Selanjutnya gambar yang sederhana itu kemudian dikembangakan  untuk disempurnakan menjadi bentuk benda yang kompleks (detail)

6.      Metode Kerja Kelompok
Jika metode ekspresi bebas atau kerja cipta pada bagian depan membahas kaitannya dengan aktivitas individual, maka metode kerja kelompok menekankan pada aspek sosial.
Ada dua macam metode kerja kelompok, yaitu:

a)   Metode Group Work (Kerja Kelompok Jenis Paduan);
            Dalam kegiatan ini para siswa bekerjasama untuk menyelesaikan sketsa sebuah gambar besar yang sebelumnya telah dirancang oleh seorang temannya yang bertindak sebagai ketua kelompok sekaligus sebagai desainer. Dalam metode jenis ini jumlah anggota biasa genap atau ganjil. Pembagian tusgas berikutnya adalah sebagai berikut:
-            Setelah siswa terbentuk menjadi sebuah kelompok, anggota kelompok menunjuk salah seorang anggotanya yang memiliki kemampuan menggambar untuk merandang gambar yang akan dibuat;
-            Setelah sketnya selesai, ketua kelompok bertugas untuk mengatur serta memberikan penjelasan tentang tugas anggota kelompoknya; dan
-            Selama anggota kelompok bekerja ketua tetap mengawasi dan ikut terlibat dalam menyelesaikan tugasnya.

b)        Metode Collective Painting (Kerja Kelompok Jenis Kumpulan).
Perbedaaan antara metode kerja kelompok jenis padauan dengan jenis kumpulan adalah jumlah anggota harus genap dan pembagian tugas-tugas anggota kelompoknya. Pelaksanaan metode ini adalah:
-       Setelah kelompok terbentuk, kertas-kertas kecil yang ukurannya sama  sesuai dengan banyaknya jumlah anggota kemudian disatukan (direkat sementara dengan solatif);
-       Setelah kertas terbentuk, ketua kelompok membuat rancangan sket sesuai dengan rendana gammbar yang disepakati bersama;
-       Kemudiaan kertas yang sudah digambari tersebut dibagikan kembali kepada anggota kelompok untuk dikerjakan berdasarkan tugas masing-masing;
-       Setelah masing-masing anggota menyelesaikan tugasnya, kertas kerja mereka kemudian ketua dan angota kelompok menggabungkan karyanya sesuai denganb  rancangan sket semuala menjadi sebuah gambar yang ukurannya besar;
-       Pada bagian tahap akhir, ketua dan anggota kelompok mengoreksi gambar agar gambar yang dibuat oleh anggota kelompok menjadin satu kesatuan yang utuh baik goresan garis, bentuk, bidang, warna dan sebagainya.
Pada saat anak mengerjakan tugasnya, kita dapat melihat perkembangan sosial setiap anak. Kita dapat mengetahui siapakah anakl yang banyak menanam saham pekerjaaanya, ide-idenya, bahkan siapakah anak yang justru mengganggu kelompoknya.

7. Metode-Metode dalam Kritik Seni
Penggunaan metode sangat penting agar para siswa mengerti proses dalam kritik seni dan membawa mereka ke arah pemahaman dalam kriteria yang digunakan.  Chapman (1978:  80) menyebutkan metode kritik seni dalam upaya mengembangkan kemampuan dan kepercayaan diri siswa dalam melakukan kritik seni. Metode-metode tersebut, yaitu: metode induktif, deduktif, emphatik dan interaktif. Penjelasan singkat berkaitan dari empat metode tersebut terangkum dari penjelasan Chapman (1978:  80-89), yaitu:
a.     Metode Induktif
Metode ini merupakan metode yang  disukai dalam menilai karya seni. Pendekatan ini dilakukan dengan cara mengumpulkan bukti-bukti visual yang mirip dengan teman Sherlock Holmes, Dr. Waston. Langkah-langkah secara umum yang dikembangkan dengan mengumpulkan hasil pengamatan berupa infentory atau menghitung elemen visual dalam karya seni, menggambarkan hubungan  antara elemen visual yang ada, ketika kita telah percaya behwa karya yang di bahwas diterima maka kemudian membuat ringkasan dari kesan dengan kata-kata. Ini penting untuk menghindari reaksi emosi atau terlalu dini dalam melakuan penilainan karya.
Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam melaksanakan metode ini adalah:
1.     Gambarkan dasar karakter karya.
2.    Gambarkan hubungan antar bagian.
3.      Gambarkan wilayah “(tempat)  dan  kualitas keseluruhanya.
4.    Tafsirkan aspek-aspek yangdihubungkan dengan pengalaman.
5.    Tafsirkan dan ringkas ide, tema, kualitas ekprsi dari makna dari karya.
6.    Evaluasi karya dengan kriteria kritik dan tunjukkan bukti-bukti untuk mendukung penilian
b.   Metode Deduktif
Pendekatan deduktif ini sering disebut dengan nama pendektan Sherlock Holmes. Dia menjadi terkenal  dengan kemampuannya untuk memecahkan kekeliruan dengan pengembangkan suatu teori yang  mengizinkan untuk menarisk suatu kesimpulan.
Orang-orang menganggap bahwa pendektan deduktif adalah sesuatu yang tidak alamiah (unnatural) dan bersifat membatasi (restrictive). Mereka berpendapat bahwa  jika mengikuti aturan yang berkaitan dengan fakta-fakta, maka seharusnya mempertahankan jarak antara perasaan individu (personal feelings) dengan kemampuan intelektual (intellectual performance). Dalam pertentangan,  pendektan dapat mempertinggi keterlibatan antara pekerjaan seni, secara khusus jika kita mau untuk meletakkannya sebagai percobaan, untuk dibicarakan, yang memerlukan waktu banyak dengan standar perbedaan masing-masing. Pendekatan ini juga memberikan peluang bentuk pembahasan yang dapat membuktikan ketertarikan dan kejelasan tentang karya seni.
Prosedur yang dikembangkan dalam pendekatan ini dilakukan dengan pemilihan kriteria untuk menilai (judging) dari sebuah karya seni (kriteria desain, subjek, material dan fungsi). Langkah-langkah yang dilakukan dalam pendekatan ini adalah:
1.    Tentukan kriteria yang akan digunakan
2.    Uji karya seni untuk mengidentifikasi fakta-fakta yang spesifik
3.    Tentukan tingkat (degree) kriteria yang dipandang pantas.
c.       Metode Empatik
Pendekatan ini dilakukan dengan dasar pemikiran bahwa ketika kita menaruh perhatian (empati) dengan suatu karya seni, kita dapat menghubungkan perasaan dengan kapasitas nya yang telah hidup dan bertahan. Kita dapat melihat garis dan dapat merasakan garis tersebut bergerak, aktif, berirama. Ketika melihat lukisan sebatang pohon, kita merasakan kesunyian atau memikirkan suatu yang menyedihkan.. Analogi tadi sebagai contoh yang dapat membantu kita dalam pengalaman seni.
Ada beberapa teknik yang dapat  membantu kita dalam mengembangkan rasa empati dan keterlibatannya ketika kita menilai suatu karya seni, di antaranya:
1.      Jangan memandang karya seni terlalu berlebihan karena dapat melupakan orang yang lebih terlatih pada bidag seni.
2.      Bagaimanapun, untuk memandang kualitas visual secara murni.
3.      Gunakan analogi dan metaphora untuk menghubungkan untuk menghubungkan apa yang kita lihat dan apa yang kita rasakan.
4.      Gunakan pengalaman dan poengetahuan sendiri untuk membandingkan apa yang kita lihat dapat dirasakan.
5.      Dengan kejegan, jangan takut untuk meningggalkan satu aspek dari karya, coba untuk memahami mengapa kita menjaga kembali hal itu.
6.      Dengan seluruh pengertian, dapatkan secara fisik dan imajinasi..
7.      Menilai karya jika kita mau melakukannya.
d.  Metode Interaktif
Pendekatan interkatif sama halnya dengan induktif, hanya tidak suka semata-mata pendekatan deskriptif, hal ini bermaksud untuk  menemukan sampai terjadi siskusi dan debat secara berkelompok untuk membahas karya seni. Diskusi ini merupakan dasar dalam pendekatan induktif. Setelah kelompok telah lelah memperbincangkanya dengan pendekatan deduktif, kemudian beberapa orang mencoba untuk untuk merumuskan hipotesis tentang arti dari karya seni yang sedang dibahas.
Meskipun pendekatan ini memungkinkan untuk melakukan analisis, namun perbedaan wawasan dapat memperkaya pemahaman bersama. Meskipun demikian, suatu karya seni disebut “bagus” jika hal tersebut tidak melawan usaha untuk menganalisisnya dan jika pengalaman berkaya tidak dirusak dengan analisis.  Langkah-langkah yang dilakukan dalam pendekatan ini adalah:
1.    Pilihlah moderator dan jelaskan aturan mainnya
2.    Gambarkan seperti banyak orang yang memungkinkan  untuk masuk ke dalam proses menjelaskan karya (Gunakan kerangka induktif dalam memandu pepenjelasan).
3.    Ketika orang kelihatan untuk keluar dari penjelasan, kemudian panggil hipotesis.
4.    Bawa kelompok untuk mendiskusikan hipotesis sehingga beberapa peserta diskusi memperlihatkan penafsiran dengan kesepakatan kelompok. Cara ini memungkinkan untuk memahami makna karya seni.

LATIHAN

Untuk mengetahui pemahaman Anda terhadap materi yang telah dipelajari, silahkan Anda mengejakan latihan
  1. Menurut Anda apa yang dimaksud metode dalam pembelajaran seni rupa?
  2. Sebutkan metode umum dalam pembelajaran serta metode khusus dalampembelajaran seni rupa?
  3. Jelaskan perbedaan antara metode siluet negatif dan siluet positif.
  4. Uraikan prinsip-prinsip umum dan prinsip khusus evaluasi dalam pembelajaran seni

RANGKUMAN
Pemilihan metode dalam proses pembelajaran erat kaitnanya dengan tujuan, materi dan evaluasi. Selain itu,  faktor siswa dan lingkungan belajar juga merupakan faktor yang menentukan dalam memilih metode yang tepat agar proses pembelajaran tepat sasaran.
Penggunaan metode banyak dipengaruhi oleh pendekatan yang digunakan. Jenis metode yang digunakan dalam pembelajaran seni rupa, di antaranya: metode Ekspresi Bebas, metode Kerja Cipta, metode Demonstrasi-Eksperimen, metode Mencontoh, metode Stick figur,  metode Global, dan metode Kerja Kelompok. Semua metode yang disebutkan biasanya banyak digunakan dalam kegiatan praktek. Metode yang sering digunakan dalam penguasaan konsep adalah metode kritik.

TES FORMATIF 2
Bubuhkanlah tanda silang (X) pada huruf di muka alternatif jawaban yang paling tepat.
1.   Kegiatan mencontoh sangat tepat diberikan dalam kegiatan ….
a.                                                                                                                                                                                 a.  menggambar ekspresi
b.                                                                                                                                                                                 b.  menggambar perspektif
c.                                                                                                                                                                                 c.  menggambar ilustrasi
d.                                                                                                                                                                                d.  menggambar dekorasi
2. Untuk menghasilkan sasaran yang optimal dalam pelaksanaan metode ekspresi bebas, guru dapat melakukan hal-hal berikut kecuali….
a.    Tawarkan dan tetapkan beberapa pilihan tema sebagai perangsang daya cipta.
b.    Tetapkan beberapa pilihan media/bahan yang cocok
c.    Jelaskan bentuk kegiatan menggambar tersebut, apakah bentuk sketsa atau berbentuk lukisan
d.   Bebaskan anak secara terbuka tanpa diberi arahan dan intruksi
3. Untuk meningkatkan kebersamaan dan kerjasama bagi anak-anak maka guru dapat membimbing anak untuk membuat karya yang monumental dengan ukuran besar. Hal ini dapat dilakukan melaui kegiatan yang menggunakan metode…
a.    collective painting
b.    work group
c.    ekspresi bebas
d.   global
4. Metode kritik seni yang dilakukan dengan menentukan kriteria suatu karya terlebih dahulu disebut:
a.         Deduktif
b.         Induktif
c.         Interaktif
d.        Empatik
5. Cara memahami karya dengan merasakan unsur visual pada karya yang diamati termasuk penerapan metode…
a.       Deduktif
b.      Induktif
c.       Interaktif
d.      Empatik
6. Penerapan metode kerja cipta dapat diterapkan pada kegiatan…. Kecuali:
a.         Dekorasi ruangan
b.        Disain benda kerajinan
c.         Menggambar  reklame
d.        Membuat lukisan
7.  Kegiatan menggambar bentuk selain menggunakan metode mencontoh langsung, kegiatan ini juga bisa menggunakan metode… dalam melatih siswa menangkap bentuk keseluruhan benda secara tepat.
a.       demonstrasi
b.      global
c.       stick figur
d.      paduan
8.  Perbedaan Antara metoda kerja kelompok dari jenis collective painting dan metoda kerja  kelompok  dari jenis group work terdapat pada ...
a.       cara kerja dan pembagian tugas kerjanya
b.      ide/ gagasannya
c.       perangsang daya ciptanya
d.      bahan yang digunakannya
9.   Manfaat yang diperoleh dengan digunakan metode interaktif pada kritik seni adalah…
a.         menambah keberanian siswa dalam berkomunikasi
b.         manambah kemampuan dalam mengamati karya
c.          menambah kemampuan siswa dalam berkarya
d.         menambah motivasi siswa dalam berkarya.
10.  Ada beberapa asumsi yang menerima metode mencontoh terutama dalam pembelajaran seni rupa, diantaranya, kecuali:
a.         Secara naluri anak-anak belajar dari mencontoh
b.         Mencontoh merupakan pekerjaan  yang ringan karena kurng melibatkan intelek
c.         Kegiatan mencontoh dalam keadaan diam, maka kegiatan dapat diulang-ulang.
d.        Kegiatan mencontoh kurang kreatif

DAFTAR PUSTAKA



Chapman, L.H (1978) Approaches to Art In Education. New York: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.
De Francesco, I. L. (1958). Art Education, Its Means and Ends. New York: Haper & Brother Publishers.
Kamaril, C. Dkk. (1999).  Pendidikan Seni Rupa/Kerajinan Tangan. Jakarta: Universitas Terbuka.
Sukmadinata, N.S. (2004) Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi. Bandung: Kesuma Karya.
Tambrin, Irin. (1991).  Metode Belajar Mengajar Umum dan Khusus Seni Rupa. Bandung: Jurusan Pendidikan Seni Rupa dan Kerajianan FPBS IKIP Bandung.




Teori Probabilitas

ELTRAMUS PGSD

Akuarium Ku

Get Free Music at www.divine-music.info
Get Free Music at www.divine-music.info

Free Music at divine-music.info
Blogger Templates
Diberdayakan oleh Blogger.